Lima tahun lalu, dunia diperkenalkan secara paksa pada sebuah pelajaran mahal: bahwa virus yang awalnya terlihat seperti masalah lokal bisa dalam hitungan minggu berubah menjadi krisis global yang meruntuhkan ekonomi, menutup perbatasan, dan mengubah cara kita hidup secara permanen. Kini, nama baru mulai muncul di pemberitaan internasional yaitu Hantavirus. Berita terbaru dari The New York Times ada sebuah wabah yang terdeteksi di kapal pesiar Hondius di kawasan Antartika, hal ini langsung memicu pertanyaan yang sama seperti lima tahun lalu. Apakah ini awal dari sesuatu yang lebih besar, dan apakah ekonomi dunia sudah cukup belajar dari COVID-19 untuk menghadapinya?
Menurut WHO (World Healt Organizaton), Hantavirus adalah virus yang ditularkan terutama melalui kontak dengan hewan pengerat, khususnya tikus, baik melalui air liur, urin, maupun feses. Berbeda dengan COVID-19 yang menyebar lewat droplet udara antar manusia, Hantavirus secara historis tidak menunjukkan kemampuan penularan dari manusia ke manusia secara efisien. Tapi deteksi kasusnya di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar Hondius tetap menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja, karena lingkungan tertutup adalah kondisi yang paling ideal untuk mempercepat penyebaran penyakit apapun.
Yang membuat topik ini relevan bukan hanya soal Hantavirus itu sendiri, tapi soal kesiapan kita sebagai masyarakat global dan Indonesia khususnya dalam menghadapi ancaman penyakit menular berikutnya, apapun namanya. Karena luka ekonomi yang ditinggalkan COVID-19 masih belum sepenuhnya pulih, dan menghadapi krisis serupa dalam kondisi yang belum sepenuhnya siap adalah skenario yang perlu diantisipasi jauh sebelum ia menjadi kenyataan.

Hantavirus: Seberapa Berbeda dari COVID-19?
Sebelum masuk ke diskusi ekonominya, penting untuk meluruskan dulu soal karakteristik virusnya agar tidak terjebak dalam kepanikan yang tidak proporsional. Hantavirus dan COVID-19 adalah dua ancaman yang sangat berbeda secara biologis. COVID-19 adalah virus pernapasan yang menyebar dengan sangat efisien antar manusia melalui udara, itulah yang membuatnya mampu menjadi pandemi global dalam waktu singkat. Hantavirus, di sisi lain, terutama menyebar dari hewan ke manusia dan hingga saat ini belum menunjukkan bukti penularan manusia ke manusia yang konsisten dan masif.
Tingkat fatalitasnya memang lebih tinggi dari COVID-19, tapi jangkauan penyebarannya secara alami jauh lebih terbatas. Artinya, dalam kondisi normal, potensi Hantavirus untuk menjadi pandemi global sekelas COVID-19 masih jauh lebih kecil. Yang perlu diwaspadai adalah skenario di mana virus bermutasi atau ditemukan jalur penularan baru yang belum dipahami sepenuhnya karena di situlah pelajaran dari COVID-19 paling relevan untuk diterapkan.
Apa yang COVID-19 Lakukan pada Ekonomi Indonesia?
Untuk memahami seberapa serius ancaman ekonomi dari potensi pandemi berikutnya, kita perlu melihat kembali seberapa dalam luka yang ditinggalkan COVID-19. Sejak awal 2020, pandemi COVID-19 telah membawa dampak besar pada perekonomian global termasuk Indonesia. Dampaknya di Indonesia tidak hanya terasa pada kesehatan masyarakat tetapi juga secara signifikan mempengaruhi perekonomian nasional. Krisis ini menyebar ke berbagai sektor, mulai dari penurunan aktivitas ekonomi hingga masalah ketenagakerjaan.
Angkanya berbicara sangat jelas. Pertumbuhan ekonomi tahun 2020 hanya mencapai 2,97%, jauh di bawah capaian tahun 2019 sebesar 5,02%. Pada Kuartal Kedua 2020, ekonomi Indonesia terkontraksi hingga minus 5,32%, menandai resesi pertama sejak krisis moneter 1998. Dan dampaknya tidak berhenti di angka pertumbuhan saja. Jumlah pengangguran melonjak tajam, mencapai sekitar 9,77 juta orang pada Agustus 2020, dengan banyak pekerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja atau dirumahkan tanpa gaji.

Sektor yang Paling Rentan Jika Terjadi Pandemi Baru
Pola yang terjadi di era COVID-19 memberikan gambaran yang cukup jelas soal sektor mana yang paling rentan ketika mobilitas manusia terganggu. Sektor pariwisata dan transportasi terpukul keras karena pembatasan perjalanan yang menyebabkan penurunan jumlah wisatawan secara drastis. Indonesia yang sangat bergantung pada sektor pariwisata, terutama Bali, merasakan dampak ini lebih dalam dari rata-rata.
Di luar pariwisata, pandemi COVID-19 mengubah pola konsumsi dan perdagangan di Indonesia. Ketidakpastian masa depan membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang, terjadi penurunan permintaan barang dan jasa yang mengakibatkan pengurangan laba perusahaan di Bursa Efek Indonesia, dan investasi asing ke Indonesia juga berkurang karena ketidakpastian ekonomi yang tinggi. Kombinasi ini adalah resep untuk kontraksi ekonomi yang dalam, dan pola yang sama berpotensi terulang jika pandemi baru terjadi sebelum fondasi ekonomi benar-benar kuat kembali.
Apa yang Harus Disiapkan Sekarang?
Pelajaran terbesar dari COVID-19 adalah bahwa respons yang lambat dan sistem yang tidak siap jauh lebih mahal biayanya dibanding persiapan yang dilakukan di depan. Pemerintah Indonesia meluncurkan Program Pemulihan Ekonomi Nasional yang berfokus pada bantuan sosial, insentif untuk dunia usaha, dan stimulus fiskal untuk menjaga daya beli masyarakat. Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan untuk mendukung likuiditas perbankan dan mendorong investasi. Kebijakan-kebijakan ini efektif tapi datang terlambat dan dengan biaya fiskal yang sangat besar.
Ke depan, yang perlu disiapkan bukan hanya sistem kesehatan yang lebih responsif, tapi juga bantalan ekonomi yang lebih tebal di level individu dan korporasi. Dana darurat yang cukup, diversifikasi sumber penghasilan, dan literasi keuangan yang lebih baik adalah tiga hal yang di level masyarakat bisa membuat perbedaan besar antara yang bertahan dan yang tenggelam ketika krisis berikutnya datang.
Insight Penulis
Ada ironi yang cukup menyakitkan dalam cara dunia merespons ancaman penyakit: kita selalu paling waspada tepat setelah krisis selesai, dan paling lengah tepat sebelum krisis berikutnya dimulai. COVID-19 seharusnya mengubah itu, tapi tanda-tanda bahwa kewaspadaan kolektif sudah mulai kendur sudah mulai terlihat bahkan sebelum pandemi itu resmi dinyatakan berakhir.
Hantavirus hari ini mungkin bukan COVID-19 berikutnya, dan kemungkinan besar memang bukan. Tapi ia adalah pengingat yang datang di waktu yang tepat bahwa ancaman pandemi bukan pertanyaan “apakah” tapi “kapan”. Dan ekonomi yang paling tahan banting terhadap pandemi berikutnya bukan yang paling kaya, tapi yang paling siap, baik di level kebijakan, korporasi, maupun individu.
Future Outlook
Dalam jangka pendek, Hantavirus kemungkinan tidak akan menimbulkan gangguan ekonomi yang signifikan selama karakteristik penularannya tidak berubah secara dramatis. Tapi dalam jangka panjang, tren munculnya penyakit-penyakit baru yang berasal dari hewan ke manusia, yang dikenal sebagai zoonosis, kemungkinan akan terus meningkat seiring dengan perubahan iklim, deforestasi, dan makin intensifnya interaksi manusia dengan ekosistem liar. Ekonomi dunia yang makin terhubung juga berarti bahwa jendela waktu antara munculnya ancaman lokal dan dampak globalnya akan terus menyempit. Sistem deteksi dini, kapasitas respons cepat, dan ketahanan ekonomi yang dibangun dari bawah adalah investasi yang nggak bisa ditunda lebih lama lagi.
Hantavirus bukan COVID-19, dan kita tidak perlu panik seolah-olah itu adalah ulangan dari 2020. Tapi mengabaikannya sama sekali juga bukan respons yang bijak dari bangsa yang sudah merasakan sendiri betapa mahalnya biaya ekonomi sebuah pandemi. Pelajaran dari COVID-19 sudah sangat jelas: sistem yang tidak siap akan selalu membayar jauh lebih mahal dari sistem yang mempersiapkan diri lebih awal. Dan persiapan terbaik dimulai bukan ketika ancaman sudah di depan pintu, tapi justru ketika semuanya masih terasa aman.
