Berita

Tiga PR Besar Suahasil Nazara: Rupiah, APBN, dan Kepercayaan Pasar

4 min readFri Sep 18 2026
Tiga PR Besar Suahasil Nazara: Rupiah, APBN, dan Kepercayaan Pasar

Baru beberapa hari duduk di kursi Menteri Keuangan, Suahasil Nazara sudah punya tiga masalah besar yang nunggu di atas mejanya. Bukan warisan yang enak karena rupiah masih tertekan, defisit APBN mulai melebar dari target, dan kepercayaan pasar yang sempat goyah butuh waktu untuk dipulihkan. Suahasil bukan orang baru di Kemenkeu, itu betul. Tapi pengalaman panjang tidak otomatis jadi solusi ketika tekanannya datang dari tiga arah sekaligus.

Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara pada 14 September 2026 bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Ini adalah pergantian Menkeu ketiga dalam kurang dari tiga tahun masa pemerintahan Prabowo, sebuah frekuensi yang jarang terjadi dan langsung memunculkan pertanyaan soal konsistensi arah kebijakan fiskal Indonesia.

Pasar awalnya merespons positif. Suahasil punya rekam jejak panjang di Kemenkeu, pernah jadi Kepala BKF dan Wamenkeu di era Sri Mulyani, dan dikenal punya pendekatan teknokratis yang prudent. Tapi sentimen positif awal tidak akan bertahan lama kalau tiga persoalan besar di bawah ini tidak segera ditangani dengan serius.

PR Pertama: Rupiah yang Masih Tertekan

Di hari pertama Suahasil dilantik, rupiah masih berada di kisaran Rp17.669 per dolar AS, jauh di atas asumsi APBN 2026 yang ditetapkan Rp16.500 per dolar AS. Gap antara asumsi dan realita ini bukan masalah kecil karena setiap rupiah yang melemah dari asumsi langsung menambah beban subsidi energi, biaya impor, dan bunga utang dalam mata uang asing.

Yang bikin situasinya lebih kompleks, pelemahan rupiah bukan semata faktor domestik. Tekanan global dari kebijakan suku bunga The Fed yang bertahan tinggi, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan capital outflow dari negara berkembang jadi kombinasi yang sulit dilawan hanya dengan pernyataan optimistis dari Kemenkeu. Suahasil butuh koordinasi yang solid dengan BI, dan bukti nyata bahwa kebijakan fiskalnya cukup kredibel untuk menahan laju pelemahan lebih jauh.

PR Kedua: Defisit APBN yang Mulai Melebar

Ini PR yang paling teknis tapi paling berat. Postur APBN 2026 yang awalnya menargetkan defisit 2,68 persen dari PDB kini diproyeksikan melebar ke 2,85 persen, didorong oleh lonjakan harga minyak mentah yang realisasinya sudah menyentuh kisaran 85 sampai 90 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi 70 dolar AS, ditambah tekanan subsidi dan kompensasi energi yang ikut naik. Total utang pemerintah kini sudah menembus Rp10.294 triliun dengan beban bunga yang terus bertambah.

Di saat yang sama, Suahasil langsung masuk ke proses pembahasan RAPBN 2027 yang menargetkan defisit turun ke 2,40 persen PDB dengan pendapatan negara Rp3.426 triliun dan belanja Rp4.097,2 triliun. Mau tidak mau, dia harus menyeimbangkan dua agenda yang tidak mudah dipertemukan: konsolidasi fiskal untuk tekan defisit, sambil tetap jaga ruang belanja yang cukup buat dorong pertumbuhan ekonomi ke target 6 persen. Kalau ketatkan APBN terlalu agresif, pertumbuhan kena. Kalau terlalu longgar, kredibilitas fiskal yang dipertaruhkan.


PR Ketiga: Memulihkan Kepercayaan Pasar

Ini yang paling abstrak tapi justru paling menentukan. Kepercayaan pasar bukan sesuatu yang bisa dikerjakan dalam satu kebijakan. Ia dibangun dari konsistensi, transparansi, dan kemampuan menyampaikan sinyal yang jelas soal ke mana arah kebijakan fiskal akan berjalan.

Masalahnya, pergantian Menkeu ketiga dalam satu periode langsung menciptakan noise soal kontinuitas kebijakan. Pasar bertanya: apakah ini pergeseran arah, atau sekadar penggantian wajah? Suahasil sudah memberi sinyal awal yang tepat dengan menegaskan APBN harus sehat dan kredibel, efisiensi anggaran dilanjutkan, dan defisit dijaga di bawah 3 persen. Tapi sinyal awal tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah implementasi yang konsisten dan komunikasi kebijakan yang lebih terukur dari pendahulunya.

INSIGHT

Ada ironi menarik di sini. Suahasil dipilih justru karena dia orang dalam, sosok yang sudah terlalu lama di Kemenkeu untuk tidak tahu isi dapurnya. Tapi justru itulah yang juga jadi beban. Kalau kebijakan fiskal ke depan masih punya masalah yang sama dengan masa sebelumnya, publik tidak bisa lagi bilang “masih adaptasi.” Suahasil tidak punya alibi orang baru. Ekspektasinya tinggi, ruang kesalahannya sempit.

PENUTUP

Tiga PR Suahasil bukan masalah baru. Rupiah yang tertekan, defisit yang melebar, dan kepercayaan pasar yang butuh dipulihkan adalah warisan yang sudah ada sebelum dia datang. Yang berbeda adalah sekarang semua itu jadi tanggung jawabnya. Pengalaman panjang di Kemenkeu memberi modal, tapi tidak memberi jaminan. Dan di sinilah ujian sesungguhnya dimulai, bukan di hari pelantikan, tapi di setiap keputusan yang diambil mulai hari ini.

Disclaimer

Artikel ini merupakan konten insight editorial Blockhore yang bersifat analitis dan tidak merepresentasikan pandangan institusi maupun rekomendasi investasi apapun. Seluruh isi artikel bertujuan sebagai bahan refleksi dan diskusi publik. Blockhore tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial apapun yang diambil berdasarkan konten ini.

Menkeu

Share

React

Author

Hadyan Orlenda Kurniawan Putra

Hadyan Orlenda Kurniawan Putra

Your Brand Could Be Here

Reach our audience & grow with us

Advertise Now