Insight

Polymarket Diblokir Komdigi, Perlindungan Rakyat atau Pembungkaman Prediksi?

5 min readMon May 25 2026
Polymarket Diblokir Komdigi, Perlindungan Rakyat atau Pembungkaman Prediksi?

Platform prediction market berbasis blockchain diblokir karena orang-orang berani bertaruh soal nasib presiden. Kedengarannya dramatis, tapi itulah yang terjadi. Komdigi resmi memblokir Polymarket pada 22 Mei 2026, berselang tidak lama setelah platform tersebut viral di media sosial Indonesia karena munculnya pasar taruhan yang mempertanyakan apakah Prabowo Subianto masih akan menjabat sebagai presiden sebelum 2027. Pertanyaannya bukan sekadar soal judi atau bukan, tapi soal di mana garis batas antara perlindungan publik dan pembungkaman ekspresi digital ditarik di negara ini.

Polymarket adalah platform prediction market berbasis blockchain yang memungkinkan pengguna memasang posisi terhadap hasil suatu peristiwa nyata, mulai dari pemilu, ekonomi, olahraga, hingga isu geopolitik global. Mekanismenya sederhana: pengguna memilih opsi “yes” atau “no” terhadap suatu kejadian, dan jika prediksi benar, mereka berpeluang mendapat keuntungan finansial.Platform ini bukan barang baru di ekosistem kripto global. Polymarket sudah lama digunakan sebagai alat agregasi prediksi kolektif yang diklaim lebih akurat dari survei konvensional karena melibatkan insentif finansial nyata. Tapi di Indonesia, model bisnis seperti ini langsung berbenturan dengan satu kata yang sensitif secara hukum: judi.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Polymarket?

X/Polymarket

Viralnya Polymarket di Indonesia dipicu oleh satu pasar prediksi spesifik: kemungkinan Presiden Prabowo tidak lagi menjabat sebelum 2027. Pasar tersebut mencakup berbagai skenario mulai dari pengunduran diri, pemberhentian, hingga kondisi yang membuat presiden tidak lagi mampu menjalankan tugasnya. Data yang beredar menunjukkan probabilitas opsi “yes” untuk Desember 2026 berada di kisaran 19 persen, sementara untuk Juni 2026 sekitar 11 persen.Angka-angka ini langsung memantik perdebatan. Sebagian melihatnya sebagai cerminan sentimen publik yang tidak bisa diungkapkan lewat jalur biasa. Sebagian lainnya menuding ada pihak dengan informasi internal yang memasang posisi di platform tersebut, meski klaim ini belum bisa diverifikasi. Yang pasti, viralnya pasar prediksi ini menjadi katalis utama yang mempercepat keputusan pemblokiran.

Argumen Komdigi: Ini Judi, Titik

Komdigi bergerak cepat. Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar menegaskan bahwa aktivitas Polymarket mengandung unsur taruhan uang dan spekulasi atas peristiwa yang hasilnya belum pasti, sehingga bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia. Larangan ini juga ditegaskan berlaku untuk platform yang menggunakan teknologi blockchain maupun aset kripto dalam aktivitasnya.Dari sudut pandang hukum, argumen ini tidak sepenuhnya salah. Regulasi Indonesia memang belum membedakan secara eksplisit antara prediction market sebagai alat agregasi informasi dan judi konvensional. Kalau mekanismenya melibatkan taruhan uang terhadap hasil yang belum pasti, secara teknis yuridis itu masuk kategori yang sama. Komdigi tidak salah membaca regulasi yang ada, tapi pertanyaannya adalah apakah regulasi yang ada sudah cukup memadai untuk menilai platform seperti Polymarket secara adil.

Argumen Sebaliknya: Prediction Market Bukan Sekadar Judi

Di sinilah letak perdebatan yang lebih substantif. Prediction market seperti Polymarket memiliki fungsi yang secara akademis dan praktis berbeda dari judi konvensional. Dalam literatur ekonomi, prediction market dikenal sebagai mekanisme agregasi informasi yang efisien karena para peserta mempertaruhkan uang nyata sehingga mereka punya insentif kuat untuk riset sebelum memasang posisi.Hasilnya, prediction market sering kali lebih akurat memprediksi kejadian dibanding polling atau survei biasa. Ini bukan klaim tanpa dasar karena berbagai studi telah membuktikan efektivitasnya dalam konteks pemilu, pasar keuangan, dan bahkan prediksi epidemi. Memblokir platform seperti ini bukan hanya soal menutup akses judi, tapi juga menutup akses ke salah satu alat agregasi informasi publik yang paling transparan yang pernah ada.

Konteks Regional: Indonesia Bukan yang Pertama

Penting untuk dicatat bahwa Indonesia bukan satu-satunya negara yang memblokir Polymarket. Sebelumnya, akses ke platform ini juga telah dibatasi di Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Jepang, sementara Singapura, Brasil, dan India disebut telah melakukan pemblokiran penuh. Artinya, keputusan Komdigi tidak berdiri sendiri dan bukan reaksi panik semata, melainkan bagian dari tren regulasi global yang masih berjuang mendefinisikan ulang batas antara prediction market, spekulasi finansial, dan judi.

Yang Paling Mengganjal: Soal Timing

Yang sulit diabaikan adalah timing pemblokiran ini. Polymarket sudah ada sejak lama dan bukan baru pertama kali memuat pasar prediksi soal politik. Tapi pemblokiran baru terjadi setelah pasar prediksi yang menyebut nama Presiden Prabowo viral di media sosial Indonesia. Korelasi ini tidak bisa begitu saja diabaikan, meski tidak otomatis berarti ada hubungan kausalitas langsung. Yang jelas, ketika keputusan regulasi bertepatan dengan konten yang sensitif secara politis, publik berhak mempertanyakan apakah motifnya murni perlindungan konsumen atau ada agenda lain yang ikut bermain.

Pemblokiran Polymarket oleh Komdigi bisa dipahami dari sudut pandang hukum yang berlaku saat ini, tapi sulit untuk disebut sebagai langkah yang sepenuhnya tepat jika kita melihat konteks yang lebih luas. Regulasi yang baik seharusnya mampu membedakan antara platform yang merugikan publik dan platform yang menawarkan cara baru untuk memahami realita. Selama garis itu belum ditarik dengan lebih cermat, keputusan seperti ini akan terus menuai pertanyaan yang lebih besar dari yang bisa dijawab dengan satu kata: judi.

DISCLAIMER

Artikel ini merupakan konten insight editorial Blockhore yang bersifat analitis dan tidak merepresentasikan pandangan institusi maupun sikap politik apapun. Seluruh isi artikel bertujuan sebagai bahan refleksi dan diskusi publik. Blockhore tidak bertanggung jawab atas interpretasi atau keputusan apapun yang diambil berdasarkan konten ini.

Share

React

Author

Hadyan Orlenda Kurniawan Putra

Hadyan Orlenda Kurniawan Putra

Your Brand Could Be Here

Reach our audience & grow with us

Advertise Now